Tuesday, March 17, 2026

Dzikir Ba'da Sholat Fardhu

Dzikir sesudah atau setelah shalat adalah di antara dzikir yang mesti kita amalkan. Seusai shalat tidak langsung bubar, namun hendaknya kita merutinkan beristighfar dan bacaan dzikir lainnya.

Dzikir akan menguatkan seorang muslim dalam ibadah, hati akan terasa tenang dan mudah mendapatkan pertolongan Allah.

[1]

أَسْتَغْفِرُ اللهَ (3x)


اَللَّهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ، وَمِنْكَ السَّلاَمُ، تَبَارَكْتَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ


Astagh-firullah 3x

Allahumma antas salaam wa minkas salaam tabaarokta yaa dzal jalaali wal ikrom.

Artinya:

“Aku minta ampun kepada Allah,” (3x).

“Ya Allah, Engkau pemberi keselamatan, dan dariMu keselamatan, Maha Suci Engkau, wahai Tuhan Yang Pemilik Keagungan dan Kemuliaan.”

Faedah: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika selesai dari shalatnya beliau beristighfar sebanyak tiga kali dan membaca dzikir di atas. Al Auza’i menyatakan bahwa bacaan istighfar adalah astaghfirullah, astaghfirullah. [1]


[2]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ، اَللَّهُمَّ لاَ مَانِعَ لِمَا أَعْطَيْتَ، وَلاَ مُعْطِيَ لِمَا مَنَعْتَ، وَلاَ يَنْفَعُ ذَا الْجَدِّ مِنْكَ الْجَدُّ


Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Allahumma laa maani’a limaa a’thoyta wa laa mu’thiya limaa mana’ta wa laa yanfa’u dzal jaddi minkal jaddu.

Artinya:

“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ya Allah, tidak ada yang mencegah apa yang Engkau berikan dan tidak ada yang memberi apa yang Engkau cegah. Tidak berguna kekayaan dan kemuliaan itu bagi pemiliknya (selain iman dan amal shalihnya yang menyelamatkan dari siksaan). Hanya dari-Mu kekayaan dan kemuliaan.”[2]


[3]

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ. لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ، وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ، لَهُ النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ


Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Laa hawla wa laa quwwata illa billah. Laa ilaha illallah wa laa na’budu illa iyyaah. Lahun ni’mah wa lahul fadhlu wa lahuts tsanaaul hasan.

Laa ilaha illallah mukhlishiina lahud diin wa law karihal kaafiruun.

Artinya:

“Tiada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan dan pujaan. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali (dengan pertolongan) Allah. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya. Bagi-Nya nikmat, anugerah dan pujaan yang baik. Tiada Rabb (yang hak disembah) kecuali Allah, dengan memurnikan ibadah kepadaNya, sekalipun orang-orang kafir sama benci.”


    Faedah: Dikatakan oleh ‘Abdullah bin Zubair, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca tahlil (laa ilaha illallah) di akhir shalat.[4]


[4]

سُبْحَانَ اللهِ (33 ×)


اَلْحَمْدُ لِلَّهِ (33 ×)


اَللهُ أَكْبَرُ (33 ×)


لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ


Subhanallah (33x)

Al hamdulillah (33x)

Allahu akbar (33 x)

Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah. Lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai-in qodiir.

Artinya:

“Maha Suci Allah (33 x), segala puji bagi Allah (33 x), Allah Maha Besar (33 x). Tidak ada Rabb (yang berhak disembah) kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Bagi-Nya kerajaan. Bagi-Nya pujaan. Dia-lah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Faedah: Siapa yang membaca dzikir di atas, maka dosa-dosanya diampuni walau sebanyak buih di lautan.[5] Kata Imam Nawawi rahimahullah, tekstual hadits menunjukkan bahwa bacaan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu akbar, masing-masing dibaca 33 kali secara terpisah.[6]


[5]

Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat (fardhu).

Faedah: Siapa membaca ayat Kursi setiap selesai shalat, tidak ada yang menghalanginya masuk surga selain kematian.[7]


[6]

Membaca surat Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Naas setiap selesai shalat (fardhu).

Faedah: Tiga surat ini disebut mu’awwidzot.[8]


[7]

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً


Allahumma inni as-aluka ‘ilman naafi’a, wa rizqon thoyyiba, wa ‘amalan mutaqobbala

Artinya:

“Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (Dibaca setelah salam dari shalat Shubuh)[9]

Note :

[1] HR. Muslim no. 591.

[2] HR. Bukhari no. 844 dan Muslim no. 593.

[4] HR. Muslim no. 594.

[5] HR. Muslim no. 597.

[6] Lihat Syarh Shahih Muslim, 5: 84.

[7] HR. An-Nasai dalam Al Kubro 9: 44. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, sebagaimana disebut oleh Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram.

[8] HR. Abu Daud no. 1523 dan An-Nasai no. 1337. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan.

[9] HR. Ibnu Majah no. 925 dan Ahmad 6: 305, 322. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini shahih.

Tuesday, March 10, 2026

Merawat Tanaman Iman

  KHUTBAH JUM’AT

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

Segala puji bagi Allah SWT,Hanya kepada-Nya kita memuji,meminta pertolongan ,serta bertaubat dari dosa-dosa kita,dan hanya kepada Allah kita memita agar dijaukan dari keburukan-keburukan diri kita dan dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan.barang siapa yang telah Allah berikan hidayah maka tidak akan pernah  sesat selamanya,dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak akan mendapat petunjuk selamanya.

Saya bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad benar2 Hamba dan Utusannya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ


قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hei Sekalian orang2 yang beriman patuhlah dan tunduklah sebenar-benar  patuh dan tunduk kepada satu-satuNya pencipta segala sesuatu yaitu Allah,dan janganlah sekali-kali kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan Islam.


وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيد
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hei Sekaliaan orang2 yang beriman,sekali lagi hanya patuh dan tunduklah kepada Allah,dan Ucapkan kalimat yang benar niscaya Allah akan perbaiki amal-amal kalian,mengampuni dosa2 kalian barang siapa mentaati Allah dan Rosul-Nya maka dia telah mendapat kemenangan yang besar


أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Kita Tau Sebaik-baik rujukan umat islam adalah kitabullah ( Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi besar Muhammad SAW yang di kenal As-Sunah,keduanya rujukan utama umat Islam disegala lini kehidupan mereka,terutama dalam masalah ibadah,dan seburuk2 perbuatan yang tidak punya rujukan dari wahyu Allah Al-Qur’an dan Sunah terutama  dalam hal ibadah, semua perbuatan ibadah yang tidak punya rujukan wahyu Al-qur’an dan sunah dikenal dengan perbuatan baru dalam Agama,dan perbuatan baru tersebut membawa pelakunya kepada kesesatan dan membawa pelakunya kedalam api neraka.

MERAWAT TANAMAN IMAN

Bulan Ramadhan merupakan nikmat Allah Subhanahu wa Ta’ala yang sangat besar yang diberikan kepada kaum muslimin. Di dalam bulan tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kesempatan yang agung kepada kita untuk beramal shalih. Beramal dengan berpuasa, shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan amalan-amalan lainnya. Karena pada hakikatnya kita sangat membutuhkan amal shalih.

Kita hidup di dunia hanya sementara. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا تُرْجَعُونَ

”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. Al-’Ankabut[29]: 57)

Perbekalan kita menuju akhirat adalah amal shalih. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada penduduk surga,

ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

”Masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”.” (QS. An-Nahl[16]: 32)

Betapa butuhnya kita kepada amal shalih. Karena amal shalih merupakan perbekalan kita yang terbaik menuju kematian.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

”Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (QS. Al-Baqarah[2]: 197)

Amal shalih itu memperbaiki hati tiap manusia. Siapapun hamba yang beramal shalih dan bertaqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti akan memperbaiki hatinya, kehidupannya, rezeki, dan mata pencahariannya. Karena amal shalih membuka pintu-pintu rezeki untuk hamba.

Amal shalih sangat kita butuhkan dalam kehidupan kita. Dan yang harus kita perhatikan setelah bulan Ramadhan ini yaitu bagaimana agar amal shalih tersebut kita jaga.

Bulan Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Akan tetapi amal shalih jangan sampai pergi meninggalkan kita. Maka ada perkara yang harus kita perhatikan dalam menjaga amal, yaitu jaga amal agar langgeng dan terus istiqamah di atas amal tersebut.

Setelah bulan Ramadhan, kita bisa terus berpuasa sunnah, shalat tahajjud, membaca Al-Qur’an, dan amal-amal shalih lainnya. Karena sesungguhnya amal yang paling Allah Subhanahu wa Ta’ala cintai adalah yang langgeng.

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam bersabda,

وَاعْلَمُوا أَنَّ أَحَبَّ الْعَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

“Dan ketahuilah bahwasanya amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang langgeng (terus-menerus) walaupun sedikit.” (HR. Muslim)

Aisyah Radhiyallahu ’Anha berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ

”Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam apabila mengamalkan suatu amalan, maka beliau berusaha melanggengkannya.” (HR. Muslim)

Karena langgengnya amal itulah yang kita butuhkan. Adapun amal yang tidak langgeng itu sangat sedikit pahalanya dan sangat sedikit pengaruhnya kepada hati kita.

Akan tetapi ketika kita melanggengkan amal, itu akan menumbuhkan tanaman iman di hati kita. Bagaikan orang yang berusaha untuk membesarkan tanamannya. Dia akan berusaha menyiramnya setiap hari. Ketika kita rutin menyiramnya dan memberinya pupuk, maka Anda akan melihat tanaman itu sangat bagus dan indah.

Demikian pula tanaman iman di dalam hati, harus kita perhatikan baik-baik dengan cara merutinkan amal shalih. Dan merutinkan amal shalih tidaklah mudah, karena banyak sekali ujian dan cobaannya. Kemalasan yang menghantui hati, syahawat yang melemahkan hati. Dan dosa-dosa yang sering kali menghalangi kita dari amal shalih.

Maka dari itu, agar bisa langgeng dan istiqamah di atas amal shalih, yang pertama kita membutuhkan kesabaran yang kuat. Sabar terus untuk berjihad melawan diri kita untuk terus beramal shalih.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

”Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali ’Imran[3]: 200)

Ada 4 hal yang disebutkan dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا

”Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu..”

Dan sungguh kesabaran membutuhkan keyakinan yang kuat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kesabaran membutuhkan bantuan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena itu bukan sesuatu yang mudah.

Maka dari itu Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam mengajarkan kita untuk selalu membaca doa:

اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

”Ya Allah bantu aku untuk senantiasa mengingat-Mu, bantu aku untuk mensyukuri nikmat-Mu, dan bantu aku untuk memperbaiki ibadahku kepada-Mu.” (HR. Abu Daud)

Ummatal Islam,

Kata Allah Subhanahu wa Ta’ala,

اصْبِرُوا

”bersabarlah kamu..”

Sabar di atas ketaatan, untuk meninggalkan kemaksiatan. Dan sabar di atas musibah yang menimpa kehidupan.

Ummatal Islam,

Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan,

وَصَابِرُوا

”dan kuatkanlah kesabaran kalian..”

Karena terkadang kesabaran itu melemah, tak selamanya terus kuat. Suatu ketika pasti ada masa di mana kesabaran itu turun. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan untuk menguatkan kesabaran, saling menasehati di antara kita. Karena sesungguhnya kaum muslimin itu bagaikan bangunan yang saling menguatkan satu sama lainnya.

Ketika kita meliat teman kita mulai futur, bersegeralah kita menguatkan dia. Ingatkan dia bahwasanya kehidupan dunia hanyalah sementara. Kita semua akan mati dan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang ketiga, Allah Subhanahu wa Ta’ala berkata,

وَرَابِطُوا

”dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu)”

Berjaga di tapal batas. Menjaga amalan-amalan kita, jangan sampai amal tersebut lemah dimasuki sesuatu yang bisa membatalkannya. Atau jangan sampai kita lemah menjaga diri kita juga jangan sampai jatuh kepada kemaksiatan, dengan cara kita berusaha berhati-hati menjauhi berbagai macam hal yang bisa menjerumuskan kita kepada maksiat.

Maka dari itu, betapa pentingnya murabathah untuk menjaga amal, menjaga di tapal batas, seperti halnya mereka yang murabathah menjaga di tapal batas suatu negara yang jangan sampai musuh memasuki wilayah negara tersebut.

Demikian kita juga murabathah di tapal batas, jangan sampai setan berhasil merusak hati dan amalan kita.

Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala mengatakan,

وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

”dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Inilah empat cara agar kita langgeng dan istiqamah di atas amal shalih. Siapa di antara kita yang tidak bersungguh-sungguh dan lebih mengikuti syahwatnya, dia tidak akan berhasil. Karena hakikat dari keberhasilan dan kesuksesan adalah ketika kita telah meletakkan kaki kita di dalam surga.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ ۗ

”Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung.” (QS. Ali ’Imran[3]: 185)

Kesuksesan bukanlah ketika kita menjadi orang kaya atau yang memiliki kedudukan. Akan tetapi kesuksesan adalah ketika kita masuk ke dalam surganya Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Maka ini yang pertama, yaitu kita berusaha untuk langgeng, sabar, terus-menerus, rutin, dan kontinyu di atas amal shalih.

Kemudian yang kedua yang harus kita jaga yaitu jangan sampai amal kita dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Itu yang setiap mukmin khawatirkan. Seorang mukmin takut apabila amal shalihnya ternyata dirusak oleh perbuatannya sendiri.

Ternyata dibatalkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala adalah akibat dari dia sendiri. Itulah yang dikhawatirkan.

Oleh karena itu ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala turunkan firman-Nya;

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَىٰ رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ

”Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka,” (QS. Al-Mu’minun[23]: 60)

Aisyah Radhiyallahu ’Anha bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam, ”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud oleh ayat ini? Apakah yang dimaksud oleh ayat ini yaitu orang yang suka berzina, mencuri, meminum khamr?”

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi wa Sallam menjawab,

لاَ يَا بِنْتَ أَبِى بَكْرٍ – أَوْ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ – وَلَكِنَّهُ الرَّجُلُ يَصُومُ وَيَتَصَدَّقُ وَيُصَلِّى وَهُوَ يَخَافُ أَنْ لاَ يُتَقَبَّلَ مِنْهُ

“Bukan, wahai putri Ash Shidiq (maksudnya Abu Bakr Ash Shidiq, pen)! Yang dimaksud dalam ayat tersebut bukanlah seperti itu. Bahkan yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah orang yang yang berpuasa, yang bersedekah dan yang shalat, namun ia khawatir amalannya tidak diterima.” (HR. At Tirmidzi)

Itulah kekhawatiran seorang muslim. Kita khawatir setelah Ramadhan ternyata kita tidak mendapat ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita khawatir kalau ternyata amal shalih kita dibatalkan dan rusak. Maka kewajiban kita adalah mengetahui apa saja yang bisa membatalkan amal shalih kita dan merusaknya.

بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN AMAL

Yang pertama adalah kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

”Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar[39]: 65)

Jika kita berbuat syirik, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan membatalkan amalan kita. Baik syirik besar maupun syirik kecil.

Yang kedua adalah kufur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

 وَمَنْ يَكْفُرْ بِالْإِيمَانِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

”Barangsiapa yang kafir sesudah beriman (tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (QS. Al-Ma’idah[5]: 5)

Yang ketiga adalah ujub dan sombong. Seseorang merasa bangga dengan amal dan ilmunya yang banyak. Dengan berbagai macam kebaikan yang dia lakukan kepada kaum muslimin. Lalu hatinya dimasuki oleh ujub dan kesombongan. Sementara ujub dan kesombongan itu bisa membatalkan amal.

Syaikh Ibnu Al Utsaimin mengatakan bahwa ujub itu dapat membatalkan amal. Maka dari itu berhati-hatilah. Jangan sampai hanya karena kita telah banyak beramal di bulan Ramadhan, lantas kita memandang remeh orang lain yang tidak sehebat kita dalam beramal shalih dan berilmu. Itu semua menunjukkan sebuah tanda bahwa amal kita tidak diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan bahwa di antara tanda amal kita diterima oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan dijadikan kita lupa kepada kebaikan-kebaikan kita. Dan kita akan dijadikan terus ingat kepada dosa-dosa kita, sehingga kita selalu merasa minder dengan banyaknya dosa. Dan kita pun menjadi tawadhu di hati kita dan terhindar dari ujub dan kesombongan.

Di antara hal yang dapat merusak amal kita yaitu kita tidak merasa takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di kala kita sedang sendirian. Ketika sendirian, kita melihat sesuatu yang Allah Subhanahu wa Ta’ala larang. Namun ketika sedang berada di hadapan orang lain, terlihat kita bertakwa. Sehingga pada hakikatnya kita takut kepada manusia, namun tidak takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.



إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَات

واغفر لنا ذنوبنا يا رب العالمين، ووفق شبابنا يا رب العالمين، واهدنا الصراط المستقيم

اللهم تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

أَللّـهُمَّ أَعْتِقْ رِقاَبَناَ وَرِقاَبَ آباَئِناَ وَأُمَّهاَتِناَ مِنَ النَّارِ

اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ على محمّدٍ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

Saturday, February 28, 2026

Dzikir Pagi dan Petang

  Dalil dari al-Qur-an tentang Dzikir Pagi dan Petang.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْراً كَثِيراً. وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلاً

“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut Nama) Allah dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang.”    [Al-Ahzab/33: 41-42].

Dari Anas bin Malik رضي الله عنه ia berkata: “Rasulullah صلي الله عليه وسلم bersabda: ‘Aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah dari mulai shalat Shubuh sampai terbit matahari lebih aku sukai dari memerdekakan empat orang budak dari anak Isma’il. Dan aku duduk bersama orang-orang yang berdzikir kepada Allah dari mulai shalat ‘Ashar sampai terbenam matahari lebih aku cintai dari memerdekakan empat orang budak.’” [HR. Abu Dawud no. 3667, lihat Shahiih Abi Dawud 11/698 no. 3114 – Misykaatul Mashaabiih no. 970, hasan]

Imam Ibnu Qayyim رحمه الله berkata:

“Waktunya antara Shubuh hingga terbit matahari, dan antara ‘Ashar hingga terbenam matahari.”

Wednesday, February 4, 2026

Cerpen Saat Kematian


Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman

قُلْ يَتَوَفَّاكُمْ مَلَكُ الْمَوْتِ الَّذِي وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ إِلى رَبِّكُمْ تُرْجَعُونَ

“Katakanlah; akan mewafatkan kalian malaikat maut yang telah ditugaskan kepada kalian kemudian kalian akan dikembalikan kepada Rabb kalian.” (As-Sajdah 11)

Monday, December 8, 2025

Al-Hasyr (Pengumpulan)

 KHUTBAH JUM’AT

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

Segala puji bagi Allah SWT,Hanya kepada-Nya kita memuji,meminta pertolongan ,serta bertaubat dari dosa-dosa kita,dan hanya kepada Allah kita memita agar dijaukan dari keburukan-keburukan diri kita dan dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan.barang siapa yang telah Allah berikan hidayah maka tidak akan pernah  sesat selamanya,dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak akan mendapat petunjuk selamanya.

Saya bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad benar2 Hamba dan Utusannya.

Friday, October 31, 2025

Beriman Hari Akhir " Al- Jannah (Surga dan Kenikmataanya ) “

  KHUTBAH JUM’AT

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه

Segala puji bagi Allah SWT,Hanya kepada-Nya kita memuji,meminta pertolongan ,serta bertaubat dari dosa-dosa kita,dan hanya kepada Allah kita memita agar dijaukan dari keburukan-keburukan diri kita dan dari dosa-dosa yang pernah kita lakukan.barang siapa yang telah Allah berikan hidayah maka tidak akan pernah  sesat selamanya,dan barang siapa yang Allah sesatkan maka tidak akan mendapat petunjuk selamanya.

Saya bersaksi tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan Muhammad benar2 Hamba dan Utusannya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ


قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hei Sekalian orang2 yang beriman patuhlah dan tunduklah sebenar-benar  patuh dan tunduk kepada satu-satuNya pencipta segala sesuatu yaitu Allah,dan janganlah sekali-kali kalian meninggal dunia kecuali dalam keadaan Islam.


وقال تعالى، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيد
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Hei Sekaliaan orang2 yang beriman,sekali lagi hanya patuh dan tunduklah kepada Allah,dan Ucapkan kalimat yang benar niscaya Allah akan perbaiki amal-amal kalian,mengampuni dosa2 kalian barang siapa mentaati Allah dan Rosul-Nya maka dia telah mendapat kemenangan yang besar


أَمَّا بَعْدُ، فإِنَّ أَصَدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلالَةٌ ، وَكُلَّ ضَلالَةٍ فِي النَّارِ

Kita Tau Sebaik-baik rujukan umat islam adalah kitabullah ( Al-Qur’an) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi besar Muhammad SAW yang di kenal As-Sunah,keduanya rujukan utama umat Islam disegala lini kehidupan mereka,terutama dalam masalah ibadah,dan seburuk2 perbuatan yang tidak punya rujukan dari wahyu Allah Al-Qur’an dan Sunah terutama  dalam hal ibadah, semua perbuatan ibadah yang tidak punya rujukan wahyu Al-qur’an dan sunah dikenal dengan perbuatan baru dalam Agama,dan perbuatan baru tersebut membawa pelakunya kepada kesesatan dan membawa pelakunya kedalam api neraka.

Beriman Kepada Hari Akhir " Al- Jannah (Surga ) “

   Secara bahasa Al-Jannah adalah" kebun." Secara syari’at  Al Jannah adalah negeri di akhirat yang penuh dengan kenikmatan yang Allāh sediakan bagi orang-orang yang bertakwa.

   Kenikmatan yang tidak pernah terbetik didalam hati manusia, Bagaimanapun besar kenikmatan didunia, maka tidak akan menyamai kenikmatan didalam surga.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

فَلَا تَعۡلَمُ نَفۡسٌ۬ مَّآ أُخۡفِىَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعۡيُنٍ۬ جَزَآءَۢ بِمَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ

   “Maka sebuah jiwa tidak mengetahui apa yang tersimpan untuknya, berupa kenikmatan yang menyejukkan mata. Sebagai balasan atas apa yang sudah mereka amalkan.”(QS As-Sajadah : 17)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

   “Allāh Ta’āla berkata, Aku siapkan bagi hamba-hamba-Ku yang shālih, kenikmatan yang tidak pernah dilihat oleh mata dan tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik di dalam hati manusia.”(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

   Nama-nama kenikmatan di dalam surga yang Allāh kabarkan kepada kita sama dengan nama-nama kenikmatan yang ada di dunia. Namun memiliki sifat yang berbeda. Rumah di surga lain dengan rumah di dunia, meskipun namanya sama-sama rumah. Demikian pula buah-buahan di surga jauh lebih nikmat dari pada buah-buahan di dunia, meski sama namanya.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

ڪُلَّمَا رُزِقُواْ مِنۡہَا مِن ثَمَرَةٍ۬ رِّزۡقً۬ا‌ۙ قَالُواْ هَـٰذَا ٱلَّذِى رُزِقۡنَا مِن قَبۡلُ‌ۖ وَأُتُواْ بِهِۦ مُتَشَـٰبِهً۬ا‌ۖ

  “Setiap kali mereka diberi buah-buahan dari surga mereka berkata,Inilah rezeki yang telah diberikan kepada kami dahulu di dunia.Mereka diberi buah-buahan yang serupa”.(QS. Al-Baqarah : 25)

   Dan di antara kesempurnaan kenikmatan surga, bahwa apa yang kita inginkan akan diberi oleh Allāh Subhānahu wa Ta’āla.

لَّهُمۡ فِيهَا مَا يَشَآءُونَ خَـٰلِدِينَ‌ۚ

“Bagi merekalah apa yang mereka inginkan, di dalam surga mereka kekal di dalamnya.”(QS Al-Furqan : 16)

Luas surga adalah seluas langit dan bumi.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٍ۬ مِّن رَّبِّڪُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَـٰوَٲتُ وَٱلۡأَرۡضُ

   “Dan hendaklah kalian berlomba-lomba untuk mendapatkan ampunan dari Rabb kalian. Dan berlomba untuk mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.”(QS Āli-‘Imrān : 133)

Para penduduk surga akan mendapatkan rumah-rumah yang mewah.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman (QS Az-Zumar : 20)

 “Akan tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Allāh, bagi mereka kamar-kamar di dalam surga, yang di atasnya ada kamar-kamar yang dibangun ( bertingkat -tingkat )”.

Rasūlullāh mengabarkan tentang bangunan dan tanah di surga. Ketika beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya oleh para shahābat tentang bangunan surga, beliau (shallallāhu ‘alayhi wa sallam) berkata:

   “Batu bata dari perak dan batu bata dari emas, lumpurnya berbau wangi kasturi yang sangat harum. Kerikilnya mutiara dan batu mulia. Tanahnya elok seperti warna za’faran”.(Hadīts Shahīh riwayat Tirmidzi)

Di dalam surga juga ada kemah.

   “Kemah didalam surga terbuat dari mutiara-mutiara yang berongga di dalamnya, tinggi kemah tersebut 30 mil ke atas” (Hadīts riwayat Bukhāri)

Dan Allāh Subhānahu wa Ta’āla mengabarkan dalam ayat yang lain bahwa di dalam surga,

√ Ada sungai dari air yang tidak akan payau,
√ Ada sungai-sungai dari susu yang tidak akan berubah rasanya,
√ Ada sungai-sungai dari khamr yang lezat bagi orang-orang yang meminumnya.
√ Ada sungai-sungai dari madu yang tersaring lagi bersih (Lihat Surat Muhammad:15)

dan Di dalam surga juga ada mata air-mata air yang mengalir. (QS Adz-Dzariyat : 15)

   “Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pohon yang apabila seorang pengendara berjalan menuruti bayangannya, yaitu bayangan pohon tersebut, niscaya 100 tahun dia tidak akan selesai”.(Hadīts riwayat Bukhāri)

   Kemudian , bau wanginya maka Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam telah mengabarkan di dalam sebuah hadits yang shahīh yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Mājah.

“Sungguh bau wangi surga tercium dari jarak perjalanan 70 tahun.”

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يَطُوفُ عَلَيۡہِمۡ وِلۡدَٲنٌ۬ مُّخَلَّدُونَ (١٧) بِأَكۡوَابٍ۬ وَأَبَارِيقَ وَكَأۡسٍ۬ مِّن مَّعِينٍ۬ (١٨) لَّا يُصَدَّعُونَ عَنۡہَا وَلَا يُنزِفُونَ (١٩) وَفَـٰكِهَةٍ۬ مِّمَّا يَتَخَيَّرُونَ (٢٠) وَلَحۡمِ طَيۡرٍ۬ مِّمَّا يَشۡتَہُونَ (٢١) وَ

   “Mereka akan dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan seloki atau piala yang berisi arak yang diambil dari mata air yang mengalir. Mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk. Dan buah-buahan dari apa yang mereka pilih. Dan daging burung dari apa yang mereka inginkan.(QS Al-Wāqi’ah:17-21)

   Makanan pertama penduduk surga adalah tambahan hati ikan paus (Hadīts riwayat Bukhāri )⇒Maksudnya adalah sepotong daging yang menggantung pada hati ikan paus dan dia adalah bagian yang paling lezat dari hati ikan paus.

   Di dalam hadīts Tsauban Radhiyallāhu ‘anhu yang diriwayatkan oleh Imām Muslim, beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam ditanya oleh seorang ulamā Yahūdi, Apa yang mereka makan setelah itu?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Akan disembelih bagi mereka sapi jantan dari surga yang akan dimakan oleh semua penduduk surga”

Ulamā Yahūdi tersebut berkata,
Apa yang mereka minum setelahnya?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam berkata:

“Mereka akan minum dari mata air di dalam surga yang dinamakan salsabil”

Para penduduk surga makan bukan karena lapar, dan minum bukan karena haus. Dan mereka tidak mengeluarkan kotoran.

“Sesungguhnya penduduk surga makan dan minum, dan tidak meludah, tidak buang air kecil, tidak buang air besar dan tidak membuang ingus.

Mereka bertanya, Lalu ke mana makanannya?

Beliau Shallallāhu ‘alayhi wa sallam mengatakan:

“Menjadi sendawa dan keringat, seperti keringat minyak kasturi”

(Hadīts riwayat Muslim)

“Dua surga terbuat dari perak, bejana-bejana keduanya dan apa-apa yang ada di dalam keduanya. Dan Dua surga terbuat dari emas, bejana-bejana keduanya dan apa-apa yang ada di dalam keduanya”(Hadīts riwayat Bukhāri dan Muslim)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

يُحَلَّوۡنَ فِيهَا مِنۡ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ۬ وَلُؤۡلُؤً۬ا‌ۖ وَلِبَاسُهُمۡ فِيهَا حَرِيرٌ۬

“Mereka diberi perhiasan gelang dari emas dan perhiasan mutiara, dan pakaian mereka dari sutra”(QS Al-Hajj : 23)

Mereka akan bersandar di atas permadani yang dalamnya terbuat dari sutra tebal (Lihat Ar-Rahman:54)

Dan akan bersandar di atas sofa yang tersusun (Lihat At-Thur:20)

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وَأَقۡبَلَ بَعۡضُہُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ۬ يَتَسَآءَلُونَ (٢٥) قَالُوٓاْ إِنَّا ڪُنَّا قَبۡلُ فِىٓ أَهۡلِنَا مُشۡفِقِينَ (٢٦) فَمَنَّ ٱللَّهُ عَلَيۡنَا وَوَقَٮٰنَا عَذَابَ ٱلسَّمُومِ (٢٧) إِنَّا ڪُنَّا مِن قَبۡلُ نَدۡعُوهُ‌ۖ إِنَّهُ ۥ هُوَ ٱلۡبَرُّ ٱلرَّحِيمُ (٢٨)

   “Dan mereka akan saling berhadapan dan saling bertanya. Mereka berkata, Sesungguhnya kita dahulu di dunia sewaktu berada di tengah-tengah keluarga, kita merasa takut dengan adzab. Maka Allāh memberikan karunia kepada kita. Dan memelihara kita dari adzab neraka. Sesungguhnya kita dahulu menyembahnya sejak dahulu dan Dia-lah yang Maha Melimpahkan Kebaikan dan Maha Penyayang.(QS At-Thur :25-28)

  Dan di dalam hadīts hasan yang diriwayatkan oleh Imām Ahmad dari Abū Hurairah Radhiyallāhu ‘anhu disebutkan bahwasanya:

“Mereka akan masuk surga dalam keadaan kulit berwarna putih, berumur tiga puluh tiga tahun dengan tinggi enam puluh hasta”⇒Satu hasta adalah dari satu siku ke ujung jari.

Allāh berfirman:

وَزَوَّجۡنَـٰهُم بِحُورٍ عِينٍ۬

Dan Kami akan menikahkan mereka dengan bidadari-bidadari”(QS Ath-Thūr : 20)

Sangat cantik seperti mutiara yang tersimpan, yang tidak berubah warna  ⇛(QS Al-Wāqi’ah : 23)

Dan ada yang seperti batu mulia dan mereka menjaga pandangan mereka hanya untuk suaminya⇛ (QS Ar-Rahman:56-58)

  Para bidadari tersebut akan cemburu bila suaminya yang sedang di dunia disakiti oleh istrinya di dunia, sebagaimana tersebut dalam hadīts yang shahīh riwayat Tirmidzi dan Ibnu Mājah.

Istri di dunia akan menjadi istri di akhirat apabila istri tersebut berimān.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

جَنَّـٰتُ عَدۡنٍ۬ يَدۡخُلُونَہَا وَمَن صَلَحَ مِنۡ ءَابَآٮِٕہِمۡ وَأَزۡوَٲجِهِمۡ وَذُرِّيَّـٰتِہِمۡ‌ۖ

   “Surga-surga yang mereka akan masuk ke dalamnya dan juga orang-orang yang shālih dari bapak-bapak mereka, istri-istri mereka dan keturunan-keturunan mereka”.(QS Ar-Ra’ad: 23)

  Para penduduk surga akan dilayani oleh anak-anak muda yang Allāh ciptakan di dalam surga, mereka akan sangat indah dipandang dan banyak seperti mutiara-mutiara yang bertebaran ⇛(Lihat QS Al-Wāqi’ah:17 dan QS Al-Insān:19)

Rasūlullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda:

“Apabila penduduk surga masuk ke dalam surga maka Allāh Tābaraka wa Ta’āla akan berkata:

“Apakah kalian menginginkan aku tambah kenikmatan kepada kalian?”

Mereka berkata:

“Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga? Dan menyelamatkan kami dari neraka?”

Allāh pun menyingkap hijab, maka mereka tidak diberi sesuatu yang lebih mereka cintai dari pada melihat kepada Rabb mereka ‘Azza wa jalla”(Hadīts riwayat Muslim)

Para penduduk surga akan sangat berbahagia dan wajah mereka berseri-seri ketika melihat Allāh ‘Azza wa jalla, Dzat yang selama di dunia mereka imani dan mereka sembah, padahal mereka tidak pernah melihat-Nya.

   Mereka taati perintah-Nya, mereka jauhi larangan-Nya, mereka benarkan kabar-kabar-Nya, bersabar atas ujian-Nya, mereka baca dan dengarkan firman-Nya, mereka ikuti Nabi-Nya, menyeru kepada jalan-Nya, dan merindukan pertemuan dengan-Nya, Meskipun dengan segala kekurangan yang mereka miliki.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

وُجُوهٌ۬ يَوۡمَٮِٕذٍ۬ نَّاضِرَةٌ (٢٢) إِلَىٰ رَبِّہَا نَاظِرَةٌ۬ (٢٣)

“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, melihat kepada Rabb mereka”(QS Al-Qiyāma :22-23) 


بَارَكَ الله لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله، نبينا محمد و آله وصحبه ومن والاه، أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أنَّ محمّداً عبده ورسولهُ


   Saudaraku, jalan ke surga adalah jalan yang penuh dengan rintangan. Tidak sampai ke sana kecuali orang yang bersabar. Ada perintah yang harus dikerjakan, ada larangan yang harus dijauhi, dan ada ujian yang harus kita sabar menghadapinya.

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

“Surga dikelilingi perkara-perkara yang dibenci dan neraka dikelilingi perkara-perkara yang menyenangkan”(Hadīts riwayat Muslim).

   Kesenangan dunia adalah kesenangan yang sedikit, Sebentar dan banyak kekurangan. Sedangkan kesenangan akhirat adalah kesenangan yang sangat banyak, kekal selamanya dan tanpa ada kekurangan sedikitpun.

Allāh Subhānahu wa Ta’āla berfirman:

بَلۡ تُؤۡثِرُونَ ٱلۡحَيَوٰةَ ٱلدُّنۡيَا (١٦) وَٱلۡأَخِرَةُ خَيۡرٌ۬ وَأَبۡقَىٰٓ (١٧)

“Akan tetapi kalian mendahulukan kehidupan dunia padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal.”(QS Al-A’lā : 16-17)

“Ketahuilah, bahwasanya kehidupan dunia hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, saling memperbanyak harta dan juga anak-anak. Seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kalian melihat warnanya menjadi kuning kemudian hancur. Dan di akhirat ada adzab yang keras dan ampunan dari Allāh serta keridhaan-Nya dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.(QS Al-Hadīd : 20)

   Untuk mendapatkan surga bukan berarti seseorang harus meninggalkan seluruh kesenangan dunia. Allāh Subhānahu wa Ta’āla menciptakan dunia dan kenikmatannya supaya kita manfaatkan dengan baik untuk mencari ridha Allāh dan surga-Nya.

   Orang yang tercela adalah orang yang menjadikan kebahagiaan di dunia sebagai tujuan dan melupakan kebahagiaan akhirat.

   Dan ini sebagian dari  Ayat Al-qur'an dan Hadist yang tersampaikan , semoga memberikan semangat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah dan sudah sejauh mana kita beriman kepada hari Akhir dalam kita mengamalkan dalam kehidupan kita.

إِنَّ اللَّـهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الحَاجَات

واغفر لنا ذنوبنا يا رب العالمين، ووفق شبابنا يا رب العالمين، واهدنا الصراط المستقيم

اللهم تب علينا إنك أنت التواب الرحيم

أَللّـهُمَّ أَعْتِقْ رِقاَبَناَ وَرِقاَبَ آباَئِناَ وَأُمَّهاَتِناَ مِنَ النَّارِ

اَللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

اللهمَّ صلِّ وسلِّمْ على محمّدٍ وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ