Maknai Idul Fitri dan Syawal
قال الله تعالى فى كتابه الكريم، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam
يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
Ma’asyiral Muslimin hafidhakumullah
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan
mengharap pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Ma’asyiral Muslimin hafidhakumullah,
Pertama, kita hendaknya meneruskan kebaikan yang sudah dicapai
selama Ramadhan. Dalam kaitan ini Syekh Muhammad ibn ‘Umar Nawawi al-Bantani
mengingatkan salah satu dari kesepuluh amaliah sunnah Ramadhan dalam kitabnya
berjudul Nihâyah al-Zain fî Irsyâd al-Mubtadi’in, yakni istiqamah dalam
menjalankan amaliah Ramadhan dan melanjutkan amaliah-amaliah tersebut di
bulan-bulan berikutnya.
Jika kita bisa melanjutkan amaliah-amaliah sunnah di bulan
Ramadhan seperti menahan lisan dan anggota badan lainnya dari perkara-perkara
yang tak berguna - apalagi perkara-perkara haram, memperbanyak sedekah,
memperbanyak i'tikaf, memperbanyak membaca Al-Quran ,dan sebagainya, maka itu
berarti kita melakukan upaya peningkatan kualitas ruhani kita.
Peningkatan semacam
itu sejalan dengan makna kata “Syawal” (شَوَّالُ) yang secara etimologis berasal dari kata
“Syala” (شَالَ)
yang berarti “irtafaá” (اِرْتَفَعَ)
yang dalam bahasa Indonesia berarti “meningkatkan”. Tentu saja mungkin
kita tidak bisa melakukan persis sama dengan apa yang kita lakukan selama
Ramadhan dalam rangka peningkatan amaliah kita. Tetapi setidaknya ada ikhtiar
kita untuk melakukan amaliah ibadah-ibadah seperti itu, misalnya dengan
menjauhi maksiat, berpuasa 6 hari di bulan Syawal dan sebagainya.
Ramadhan memang
dimaksudkan sebagai bulan tarbiyah atau bulan pendidikan dimana umat Islam
digembleng selama sebulan penuh agar menjadi orang-orang yang bertakwa kepada
Allah subhanahu wata’ala.
Kedua,
menjaga agar kita tidak mengalami kebangkrutan amal yang telah kita raih baik
sebelum dan selama Ramadhan dengan cara tidak menzalimi orang lain. Dalam hal
ini Rasulullah shallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang kebangkrutan amal
sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah berikut ini:
Artinya, “Tahukah kalian siapakahorang yang mengalami kebangkrutan
amal? Tanya Rasulullah kepada para sahabat. Mereka menjawab:
فَقَال
Artinya, “Maka Nabi menjawab”:
“إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي، يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي
قَدْ شَتَمَ هٰذَا، وَقَذَفَ هٰذَا،
Ma’asyiral Muslimin hafidhakumullah,
Hadits tersebut
hendaklah dapat kita hayati bersama karena memberikan kesadaran kepada kita
betapa pentingnya menghindari perbuatan mendzalimi sesama manusia. Alasannya
adalah kedzaliman-kedzaliman seperti itu dapat membuat kita bangkrut secara amalia,
yakni ludesnya amal-amal kebaikan kita yang telah kita kumpulkan dengan susah
payah selama bertahun-tahun, bahkan selama hidup kita. Untuk itu
apabila kita sayang pada diri sendiri, maka jagalah agar amal-amal baik kita tidak
musnah sia-sia yang Rosulullah Ibaratkan “orang yang mengalami kebangkrutan “, kita harus bisa mengendalikan diri kita
sehingga orang lain selamat dari perbuatan mendzalimi orang lain seperti:
menyakiti hati, menghujat dan memaki, memfitnah dan menuduh tanpa bukti,
mengambil hak seperti mencuri dan korupsi, membunuh, menyakiti secara fisik,
dan sebagainya.
Ma’asyiral Muslimin hafidhakumullah,
Mudah-mudahan
apa yang khatib sampaikan terkait dengan
apa yang harus kita lakukan setelah Ramadhan, dapat bermanfaat bagi kita semua,
dan khususnya bagi khatib pribadi. Mudah-mudahan pula kita semua senantiasa
mendapat petunjuk dari Allah subhanahu wata’ala sehingga hal-hal jelek seperti
yang tadi benar-benar dapat kita hindari bersama, dan akhirnya kita semua
kelak diterima di sisi Allah subhanahu wata’ala dan ditempatkan di surga
bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan orang saleh lainnya. Amin…
Amin ya Rabbal 'alamin.
أعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ. إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ
الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الاَبْتَر
Khotbah
2
Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta
Sumber: https://islam.nu.or.id/

No comments:
Post a Comment